Yang Tlah Hilang
Yang Tlah Hilang
Dia suamiku…
Ruangan ini begitu sepi dan sangat tidak menyenangkan.Bagaimana nggak? semua hampir serba putih, bau obat2 an di sana sini…
Saat ini hatiku pun selaras dengan suasana kamar melati nomer 3 B.Dimana hanya aku seorang yang menempati ruangan ini.
Perlahan kudengar ada orang melangkah ke dalam …kupikir ibuku , yang sedari tadi menungguiku
“Sayang..” Sapaan halus dari suara berat seorang laki2. Dia suamiku, yang kemaren malam , hampir membuatku tak bisa lagi melihat isi dunia ini.
Sedikit pun aku tak bergeming dan menoleh padanya pun tidak . Luka ini begitu dalam ,dan menganga. Memang tak selalu dia menyakitiku, tapi sikapnya kmrn malam sungguh membuatku seakan ga akan bisa memaafkan dirinya, dan ga mau melihat dirinya
“Maafkan aku sayang,..kenapa kamu masih saja diam..Aku tahu aku salah, tapi aku benar2 menyesal.Percayalah..” Bujuknya dengan nada memelas dan menggenggam tanganku erat
Perlahan kutarik tanganku dari genggamannya , dan aku berbalik memunggunginya…Aku masih belum mau bicara dengannya..Aku masih belum mau…
“Sudah agak baikan koq ris, kata dokter besok si nia sdh boleh pulang.., ” Ibuku tiba2 datang menghampiri kami berdua..
“Syukurlah kalau begitu bu”
“Loh, belum kamu makan sarapannya nduk? Lah gimana mau sembuh , wong dr tadi pagi perutmu belum kamu isi ”
“Suapin sana ris, memang nia itu paling bandel kalau disuruh makan , ibu mau pulang ke rumah dulu ya, mau ambil baju ganti dulu”
“Aku mau ibu yang suapin” seketika aku berbalik , dan suaraku mencegat ibu, agar beliau jangan pulang dulu
“Loh , kan sdh ada suamimu toh?Nanti ibuk balik lagi koq.Kayak anak kecil aja kamu ini nduk… “tawanya ringan
“Iya sayang, ibu kan capek , sini aku suapin ya, hbs ini minum obat” Bujuknya dengan nada seperti biasanya, mencoba menyembunyikan masalah kami dari ibu .
“Aku mau ibu “.Suaraku serak, dan entah secara spontan air mataku keluar begitu saja.Saat ini, aku ga ubahnya seperti anak TK, yang ga mau ditinggalin oleh orang tuanya…
tapi mengapa keduanya malah menanggapi dengan tertawa…
Aku sedang sedih ibuuu…………… pekikku dalam hati…
“ya sdh, sini tak suapin , gitu kmrn udah ngebet nikah ” ibu terkekeh sambil meraih sarapan yang sedari td sudah diantar oleh suster
Aku cuma cemberut menanggapi guyonan ibu
—
Tahun pertama dalam pernikahan ada yang bilang merupakan saat manis bagi pengantin baru..Tapi baru 2 bulan saja, satu cobaan sudah mendera bahtera hubungan kami..
Dia, suamiku seorang web designer perusahaan swasta terkemuka di indonesia, sehari2 nya memang selalu disibukkan dengan pekerjaannya.
Meskipun kami dulu sama2 satu alumni ketika smk, tapi kuakui aku tidak begitu bakat dengan bidang yang menjadi jurusan satu2 nya sekolah kami. Dia 2 tingkat diatasku.Kami bertemu pertama kali pada waktu ada acara reuni kecil2 an sesama alumni surabaya. Bincang2 sebentar, tnyt mampu menumbuhkan benih2 cinta diantara kami …
Lalu komunikasi berlanjut di dunia maya… sampai 2 bulan yang lalu , dia resmi meminangku sebagai istrinya, pendamping hidupnya…
Kedekatan kami selama 3 bulan sebelum menikah, cukup membuat kami sedikit mengerti satu sama lain. Kebiasaan2 kami, kejelekan2 kami , hoby2 , seperti hoby dia yang berkutat dengan game , dan aku yang yang lebih suka menghabiskan waktuku dengan membaca novel2 islami.Sedari sebelum menikah kami sdh sama2 saling mengerti..
tapi hoby nya kali ini, membuat aku sangat marah sama dia..
“Mas, gerimis..”
“Ambilin sepatunya mas , yang tadi adek cuci, ntar basah lagi, mas kan ga bisa kerja besok..”Pintaku suatu sore
Sejak kami tahu aku hamil 1,5 bulan, aku berusaha menjaga si calon baby kami dengan tidak mengerjakan sesuatu yang bisa membahayakan ..
Seperti kmrn sore , sepatu mas faris, yang habis kucuci pagi harinya, di jemur diatas genting tempat menjemur pakaian.Karena dengan begitu akan lebih cepat keringnya.Dan aku memintanya untuk mengambil sepatu itu, karena gerimis,.. tapi apa jawabnya..
“Sebentar dek..mas lagi asik ngegame ini lo…kalau ditinggal bisa2 kalah dan ngulangi dari awal…. lagian adek kan bisa toh ambil sendiri , gt aja koq… ” Kalimatnya terputus, dan dia berbicara tanpa menoleh sedikitpun padaku..
“Mas…aku takut, sebentar aja lo, hbs ini hujan deras lo…” Rengekku membujuk dia…
“Aduh…sebentar donk……. nih tinggal sedikit lagi..” Bentaknya dengan tetap asyik meneruskan game nya…
Akhirnya aku berlalu dan cepat2 aku meraih kursi untuk mengambil sepatu itu, dan mulai menaiki kursi itu , mencoba meraih sepatu. …
sampai beberapa detik kemudian….aku merasakan tubuhku oleng , dan kemudian semuanya gelap…
—
Perlahan kubuka mataku, tapi rasanya berat sekali, bau obat2 an menyengat dihidungku ….
Sayup2 kudengar seseorang berkata “Maafkan kami, kami sudah melakukan semaksimal kami, tp kandungan istri bapak tdk terselamatkan…..”
Suara itu semakin melemah, seperti lemahnya diriku..Seakan tubuhku berguncang, kepalaku pusing, badanku seperti remuk…
ya Allah, anakku…………………………
sampai beberapa saat semuanya gelap kembali….
—
Saat terbangun dari pingsanku , yang terpikir adalah…anakku……..anakku sdh nggak ada lagi……………
Dia yang aku jaga selama 1,5 bulan ini, tnyt sdh nggak ada…
Aku menangis dalam hati, dan itu lebih parah daripada tangisan yang keluar…dan yang terpikir adalah aku tak akan memaafkannya..tidak akan pernah…
—
Mas Faris menuntunku keluar dari mobil, memasuki rumah kami..
Cukup panjang perdebatan dalam hatiku, sampai aku memutuskan mau diajak pulang ke rumah kami, daripada ke rumah ibu, walaupun perasaan marah itu masih belum pergi dari hatiku
Aku masih tetap nia yang selalu diam, membisu, sama sekali bukan nia yang ceria, percaya diri, dan aktif .Semuanya memang berubah setelah kejadian itu …
Dia membimbingku ke kamar, mendudukkanku di tepi tempat tidur…
“Istirahat dulu ya sayang…., ” ucapnya memecah keheningan kami…sambil dia berjongkok di depanku dan menggenggam tanganku erat…
Tak sekilaspun aku menatapnya….aku hanya bisa menunduk tanpa bicara sepatah katapun…
Aku belum bisa…belum bisa menerima ini ….
“Sayang….sampai kapan adek begini , mas kan sdh meminta maaf, memang dari awal , mas yang salah, dan mas ga akan mengulanginya lagi.. mas janji… ” bujuknya memelas , dan mengelus pipiku lembut…
Sorot matanya tidak ada lain , selain memancarkan rasa bersalah, menyesal dan entahlah,..yang jelas, saat ini hatiku masih seperti batu….
Dalam tidurpun, aku selalu memunggunginya,entah sudah berapa kali dia mencoba membuka pembicaraan yang tak pernah kutanggapi, guyonan yang tetap membuatku tak bergeming,…dan terakhir dia masih mencium keningku sambil mengucapkan ’selamat tidur honey’ sebelum kami berangkat tidur, sepeti kebiasaannya …
Dan aku tetap membisu, tanpa sepatah katapun…
Laki2 ini, suamiku, calon ayah dari calon babyku, dan pembunuh calon……….
Astanghfirullah, buru2 aku cabut kata2 pembunuh, bagaimana pun semua kehendak Nya ,….Ya allah ampuni aku …bisikku dalam hati
—
1/2 5 pagi.. aku bangun. Tidak seperti biasanya , aku sholat subuh sendiri … Ya ..biasanya dia akan membangunkanku setelah adzan subuh, dan mengajakku berjama’ah, Kali ini tdk, mungkin dia kasihan membangunkanku , karena sebenarnya aku sudah tahu sekitar jam 4 pagi, dia berjalan ke arahku, duduk di sebelahku..bau tubuhnya…memenuhi rongga hidungku,..dekat sekali,…sampai akhirnya aku merasakan kecupan hangatnya dikeningku….
aku berjalan ke arah kamar mandi, siap2 mencuci baju dengan mesin cuci…, lama aku tertegun…
“Sayang, kita beli mesin cuci aja ya.., kan adek sedang hamil dan beberapa bullan lagi, ada calon baby kita, aku ga ingin istriku ini capek…, ”
“Nggak usah mas, orang cuciannya ga berat2 amat koq, nanti aja kalau usia kandunganku besar,…. ”
“Nggak, nggak nunggu besar, sekarang aja…., besok mingu kita beli ya…alhamdulillah, mas kmrn dapat proyek ,dan rejekinya bisa buat beli mesin cuci… ” Ucapnya lembut nan tegas…
ah…suamiku….saat itu aku bak seorang bidadari , istri, dan calon ibu yang paling bahagia
Aku tersentak ketika ada tangan yang menyentuh pundakku dengan lembut
” Koq melamun sih? Udah, adek ga usah nyuci dulu, biar mas yang nyuci” katanya sambil mengambil alih baju yang aku pegang dan segera memasukkannya ke mesin cuci.. ”
Aku memandangnya sekilas, dengan tatapan dingin…lalu aku melangkah ke ruang tengah, menyiapkan pakaian yang akan dipakai mas faris bekerja dan hendak menyetrikanya..ketika..kudengar teriakan dari arah kamar mandi….
“Adek, biar mas aja yang nyetrika… , adek istirahat aja…”
Aku membanting pakaiannya dengan sebal…
Ogah2 an aku ke dapur , menyiapkan sarapan, meskipun jam masih menunjukkan pukul1/2 6, lebih cepat dr biasanya aku start memasak…
lagi2…teriakan dr nya melarangku memasak, krn dia akan membeli sarapan di luar., krn tidak ingin aku capek2 memasak…
Hh..semua dilarang, semua tdk boleh, lalu apa fungsinya aku disini, aku mendengus , dan kuletakkan pisau dengan keras di kitchen set…
Akhirnya…aku melangkah ke kamar, mengambil buku novel dan duduk di tempat tidur..sambil cemberut, aku mencoba konsentrasi dengan membaca buku, tapi hasilnya nihil..tak satupun kalimat bahkan satu kata pun yang masuk ke otakku…
Mas faris masuk ke kamar dengan wajah tersenyum, menatapku seperti itu ….melihatku termenung, dia menghampiri ku ke tempat tidur..dia memelukku..walaupun aku tak merespon perlakuannya kepadaku… beberapa saat kemudian dilepasnya pelukannya, kedua tangannya memegang bahuku , dan daguku di dongakkan ke arahnya, karena dengan begitu aku tak kan bisa memalingkan muka darinya …
dengan lembut dia berkata ” Mas sayang kamu adek, mas minta maaf atas kesalahan mas kmrn ,seperti adanya adek sekarang, mas juga sangat menyesal , tapi mas ga ingin adek diam dan marah seperti ini, karena rumah ini akan sepi tanpa senyuman dan candamu… ”
“Mas janji nggak akan mengulangi kesalahan kemarin untuk kedua kalinya” lanjutnya
ditatapnya lama kedua mataku, seolah mencari telaga maafku terhadap dirinya,…tapi akhirnya dia bangkit setelah yakin kalau telaga itu telah kering sehingga tak bisa mengguyur panasnya hatiku…
Dia ganti pakaian didepanku…beberapa menit ketika dia bersiap ke ke kantor, kami lalui dengan keheningan. Tak ada satu kata pun yang keluar dr bibir kami…
Sampai pada akhirnya, dia berpamitan berangkat ke kantor…sambil lalu, aku mencium tangannya dan dia mencium keningku…
“Assalamu’alaykum sayang, hati2 di rumah… ”
“Wa’alaykum salam “….jawabku sekenanya
—
Pukul 10.00 aku ke rumah ibu, Tak ada satupun cerita sedih yang aku ceritakan ke ibu.Semua aku simpan dalam2. aku hanya tak ingin masalah kami terdengar ibu.. aku hanya ingin memecahkannya bersama mas faris, tapi entah kapan ?yang jelas tidak untuk saat ini, karena untuk saat ini aku belum sanggup…
yang ibu tahu hanya karena aku ingin menginap di rumah ibu, dan aku bilang mas faris tak keberatan dengan ideku ini…
“Emang e kamu itu sek belum bisa mandiri. Masa baru 2 bulan menikah ae…wes ke rumah ibuk lagi , nduk2.. nduk, ..” kata ibu sambil mengusap2 rambutku, ketika kurebahkan kepalaku di paha ibu…
“iya bu…” jawabku singkat
2 jam tak terasa aku ngobrol dengan ibu, masalah antara aku dengan mas faris,hampir kabur dari pikiranku… kalau saja hp ku tak berbunyi..
“tit..ti..ti..tit..”
‘My Husband calling’
“Assalamualaykum sayang..”
“Waalaykumsalam”
“Sayang sdh makan ? ”
“Belum”
“Loh , kenapa koq belum ? jangan telat sayang , nanti sakit lagi , dan kalau adek yang sakit, mas ga akan pernah memaafkan diri mas lagi…”
“Iya, nanti saja..”
“ya udah , hati2 dirumah ya… ”
“Aku dirumah ibu.. ” entah kenapa begitu saja kalimat ini keluar dari mulutku..
“Loh , sayang ngapain ke rumah ibu ? ”
“Aku kangen ibu …”
“Ya sdh kalau gt , nanti mas jemput ya sepulang mas kerja.. ”
“Assalamualaykum…. i love you sayang… ”
“waalaykum salam “batinku…
Perlahan ada rasa bersalah menjalar ke sekujur tubuhku, begitu naifnya aku , dimana aku tdk mau memaafkan suamiku sendiri setelah mengakui salahnya…
ah..sdh lah, aku memang belum siap membicarakan dengannya
—
Kriek……………… pintu kamarku terbuka , seketika kuturunkan buku ku dari pandangan mataku…
Kulihat senyum keletihan, kekhawatiran, ketulusan, dan ……….
” Pulang yuk, kenapa koq tiba2 pengen ke rumah ibu? ”
“Nggak, mas pulang sendiri saja”
“Loh , koq gitu? trs mas sama siapa di rumah ? ” tanyanya memelas…
“Nih, aku dah beli masakan kesukaan adek..” dia menunjukkan bungkusan hitam di tangannya dengan kerlingan matanya ke arahku
“Tuh kan kupikir mas sdh ga membutuhkan aku lagi, kurasa mas sdh bisa mengurus diri mas sendiri .. ”
“Loh3x..koq bisa ngomong kayak gt sih? dr mana adek punya pikiran kayak gitu ?”
“Buktinya, mas ga ngebolehin aku mencuci, menyetrika, memasak dll, aku merasa ga dibutuhkan sama mas… ” kataku, dan tiba2 air mataku jatuh …
“Aku merasa mas bisa melakukannya tanpa aku..” cerocosku…
dan air mata ku semakin deras menetes…. ,saat itu gunung es yang ada di hatiku meledak, dan aku sdh siap dengan apa yang akan dikatakannya
Diraihnya kepalaku ke dadanya… sambil mengelus rambutku, dia berkata
” Sampai kapanpun, aku akan selalu membutuhkan adek”
” Aku ga ngebolehin , krn kurasa fisik adek masih lemah, dan harus istirahat , bukan..bukan karena mas bisa mengurusnya sendiri ”
“Disamping itu , karena mas merasa bersalah sama adek dan calon……..” katanya terputus dan menunduk…
” Mas ingin menebusnya dengan membiarkan adek istrihat, dan biar kerjaan adek mas yang ngerjain… ”
kutatap wajahnya, tak ada sedikitpun tersirat kebohongan dalam matanya…
Perlahan dia mengusap air mata yang terus menetes di pipiku….tangannya kirinya tak lepas menggenggam tanganku erat…
“Mas minta maaf sayang… ” katanya lagi dengan lembut, dengan sekali sentak mampu meruntuhkan dinding ketegaranku….
“Mau kan pulang sama mas malam ini ? ”
” Aku ga tau mas….aku masih ingin sendiri dulu… kumohon..mas pulang aja dulu, mungkin besok aku sdh reda, dan aku akan kembali pulang. ” jawabku bergetar…
“Baiklah… ” sambil melangkah lesu , mas faris keluar dari kamar..
“Loh….koq nia ga ikut kamu ris? kenapa memangnya? ” nada heran tersirat dr omongannya
sayup2 kudengar, mas faris menjawab dengan nada seakan kami baik2 saja
“Nggak papa bu, nia masih pengen disini dulu katanya, masih pengen sama ibu, biasa lah bu, nia kan masih anak mami , hehehe ” guyon nya
“Oalah….ya wes lah…kamu ati2….ndek jalan yo le…. ”
” iya bu, saya pulang dulu, assalamualaykum ” pamit mas faris dengan mencium tangan ibu…
deru motor dipanaskan di depan rumah ….saat itu hatiku berdebat hebat…tubuhku bergetar dan serasa lunglai…
dia..dia…suamiku… aku tak boleh meninggalkannya …
aku berlari ke depan mengejar nya, berharap tak terlambat berlari ke arahnya dan menyesal …
“Mas faris…………..”
” Aku ikut… ” kataku tertunduk….
Mas faris dan ibu yang ada di depan, seketika menoleh … dan kulihat senyum kelegaan dan kebahagiaan di sana…
Mas faris hanya mengangguk pasti dan yakin ….
tak bisa kutahan , akhirnya aku berhambur ke pelukannya… dan menangis……







